Lulu Trifacilla

Lulu Trifacilla

Selasa, 07 Mei 2013

Rainbow in Beach :)























Shawl : Selendang Rajut Pelangi by: DP
Top : Ungu Miung
Inner : Rabbani
Sandals : Jogger 
Location : Ujung Genteng Beach - Sukabumi

Senin, 06 Mei 2013

Pose Action - Red Songket

Maret 2013 

Headscarf   : Red Songket  by : LT
Shawl        : Crinkle Shawl Jumputan by DP
Top         : Red Songket by LT
Skirt        : Korea Red by LT
Bag          : Kaiqiaoer
Wedges     : Icon9
Location     : Bridge UI, Depok 














 

Minggu, 24 Maret 2013

Bentuk-Bentuk Utama dalam Terapi

Lewis dan Walberg membagi tiga tipe bentuk penyembuhan, yaitu : 
1. Suppartif (suppartif theraphy), bertujuan untuk :
  • Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
  • Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau keperibadian
  • Mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang
2.  Reedukatif ( reedukatif therapy), bertujuan untuk :
  • Penyusuaian kembali
  • Perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup
  • Menghidupkan potensi kreatif
3. Rekonstruktif (rekonstruktif therapy), bertujuan untuk :
  • Menimbulkan insight  penahan terhadap konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur keperibadian
  • Perluasan pertumbuhan kepribadian yang mengembangkan potensi penyuasaian yang baru
sumber : 
http://digilib.uin-suka.ac.id/2762/1/BAB%20I,%20V.pdf

Perbedaan Antara Konseling dengan Psikoterapi

Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitas pekembangan individu. Hubungan dalam konseling berbeda dengan situasi, hubungan dalam konseling ditandai : 
1. Hubungan yang bersifat unik dan umum,
2. Adanya keseimbangan obyektifitas dan subyektifitas,
3. Adanya keseimbangan unsur kognitif dan konatif,
4. Adanya keseimbangan antara kesamar-samaran dan kejelasan,
5. Adanya keseimbangan tanggung jawab.
       Menurut cavanagh (1982) konseling merupakan suatu hubungan antara pemberi bantuan yang terlatih dengan seseorang yang mencari bantuan, dimana keterampilan pemberi bantuan  dan suasana yang dibuatnya membantu orang lain belajar untuk berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dalam cara-cara yang lebih tumbuh dan produktif.
Prinsip-prinsip pengertian konseling :
1. Konseling merupakan alat yang paling penting dalam keseluruhan program bimbingan
2. Dalam konseling terlihat adanya pertalian dua orang individu yaitu konselor dan konseli, dimana konselor membantu konseli malalui serangkaian wawancara dalam serangkaian pertemuan
3. Wawancara merupakan alat utama dalam keseluruhan konseling
4. Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling agar konseli, memeperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya kearah tingkat perkembngan yang optimal, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya, mempunyai wawasan yang lebih realitas serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya, mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimiliknya, terhindar dari gejala kecemasan.

      Konseling dan psikoterapi memiliki perbedaan dan persamaan serta keterkaitan satu dengan lainnya. Perbedaan antara konseling dengan psikoterapi tidak dibuat secara jelas, akan tetapi banyak hal-hal yang dilakukan oleh psikoterapis  dan hal-hal yang merupakan praktek, psikoterapis juga dilakukan oleh konselor.
konseling merupakan suatu hubungan yang bersifat membantu, interaksi antara konselor dan konseli menjadikan konseli terbantu dalam mencapai perubahan yang lebih baik, untuk menumbuhkan kekuatan psikologis. 
      Perbedaan konseling dengan psikoterapi menurut corey (1988) konseling yaitu peningkatan kesadaran dan kemungkinan memilih, berjangka pendek, difokuskan pada masalah, membantu individu untuk menyingjirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhannya, dan individu dibantu untuk menemukan sumber-sumber pribadi gar bisa hidup lebih efektif. 
     Sedangkan psikoterapi yaitu: difokuskan pada prosese-proses yang tidak sadar, berurusan dengan pengubahan strusktur kepribadian, mengarah pada pemahaman diri yang intensif tentang dinamika-dinamika yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis-krisis kehidupan ketimbang hanya berurusan dengan usaha mengatasi krisis kehidupan tertentu. Dan ada juga perbedaan menurut Prawitasari (2002), konseling adalah lebih sebagai pemecahan masalah yang disediakan konselor (dominan pada tataran kognitif), sedangkan psikoterapi lebih sebagai koreksi pengalaman emosi.

Sumber : 
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195903311986031-SUHERMAN/KONSELING_%28KONSEP_DASAR%29_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf

sintak.unika.ac.id/staff/blog/uploaded/.../konseling&psikoterapi.pptx
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&ved=0CEsQFjAF&url=http%3A%2F%2Fsintak.unika.ac.id%2Fstaff%2Fblog%2Fuploaded%2F5811995183%2Ffiles%2Fkonseling%26psikoterapi.pptx&ei=WRtPUamOHsLyrQef7YDADg&usg=AFQjCNHXH7XbYhN2tniW6lIeoKXKK9i3PA&bvm=bv.44158598,d.bmk 

Psikoterapi

          Secara etimologi psikoterapi berasal dari dua kata, yaitu "psyche" yang berarti "mind" dan lazim diartikan "jiwa" dan "therapy" yang berarti merawat atau mengasuh. Jadi, dua makna tersebut menjadikan "psikoterapi"  yang mempunyai makna sederhana, yaitu perawatan dalam aspek kejiwaan. Cara kebatinan itu sendiri dipertegas dalam kamus psikologi, yaitu pengobatan dengan menggunakan pengaruh (kekuatan kebatinan) dokter atas jiwa (rohani) penderita tanpa obat-obatan, tetapi menggunakan metode "psikologis". Metode ini bisa melalui metode sugesti, nasihat, menghibur, menghipnotis dll. Penetapan metode psikologis ini mempunyai maksud untuk merangsang terjadinya penyembuhan sikap dan sifat secara positif pada penderita gangguan emosional dan perilaku.
         Menurut Zwisr Wollberg MD, dalam bukunya yang berjudul "The Technique of Psikotherapy", Psikoterapi adalah perawata dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan  yang berasal dari kehidupan profesional dengan pasiennya yang bertujuan : 
1. Menghilangkan, mengubah, atau menemukan gejala yang ada,
2. Memperantai (perbaikkan) pola tingka laku yang rusak,
3. Meningkatkan pola pertumbuhan  serta perkembangan kepribadian yang positif.
       Definisi lain psikoterapi adalah Interaksi sistematis klien-terapis dengan memanfaatkan prinsip psikologis, untuk melakukan perubahan pikiran, perasaan dan perilaku klien, dengan tujuan membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecahkan masalah dan atau berkembang sebagai individu.

Tingkatan psikoterapi:
1. Pendekatan suportif
2. Insight dengan tujuan reedukatif
3. Insight dengan tujuan rekonstruktif

Tujuan Psikoterapi
1. Managemen krisis
2. Perubahan tingkah laku
3. Pengalaman emosional korektif
4. Insight dan perubahan

Ciri umum terapis
1. Mementingkan inner world
2. Membebaskan emosi / the release of Emotions
3. Insight interpretasi masa kecil
4. Pembinaan Hubungan
5. Penurunan kecemasan
6. Membangun kompetensi
7. Faktor non spesifik
8. Peran profesional

Sumber : 
http://digilib.uin-suka.ac.id/2762/1/BAB%20I,%20V.pdf
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CC0QFjAA&url=http%3A%2F%2Focw.usu.ac.id%2Fcourse%2Fdownload%2F1270000037-psi-klinis%2Fpkl_142_slide_intervensi_dalam_psikologi_klinis.pdf&ei=5ABPUcWQE5DMrQeWr4HYDA&usg=AFQjCNHaIK038g77zLM9l9LJsYDtUjWUCw&bvm=bv.44158598,d.bmk

Jumat, 30 November 2012

MULTIKULTURALISME

Pengertian Multikulturalisme
Multikulturalisme adalah kebudayaan, yang berasal dari kata “multi” yang berarti banyak, “kultural” yang berarti kultur atau budaya dan “isme” yang berarti paham atau aliran. Istilah multikulturalisme bukan sekadar pengakuan akan adanya kultur atau budaya yang berjenis-jenis, tetapi pengakuan itu juga mempunyai implikasi-implikasi politis, sosial dan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan “the right to culture”
Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya.
Maka Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui merupakan akar dari segala ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan. Pengertian kebudayaan di antara para ahli harus dipersamakan atau, setidak-tidaknya, tidak dipertentangkan antara konsep yang dipunyai oleh seorang ahli dengan konsep yang dipunyai oleh ahli lainnya. Karena mulitkulturalisme itu adalah sebuah ideologi dan sebuah alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiannya, maka konsep kebuayaan harus dilihat dalam perspektif fungsnya bagi kehidupan manusia.

Rumusan Multikulturalisme Menurut Rob Reich yaitu:
 Multikulturalisme deskriptif yaitu kenyataan sosial yg dikenal oleh pakar ilmu politik sbg kenyataan pluralistik. Multikulturalisme deskriptif tidak mengakui adanya satu konsep mengenai yg disebut sesuatu yg baik (good). Sesuatu yg baik tergantung kepada nilai pluralistik dlm masyarakat. Dengan demikian kebenaran yg disebut tunggal tidak dikenal dalam konsep multikulturalisme. Yang baik adalah yg dianggap benar oleh suatu masyarakat.
Multikulturalisme normatif berkaitan dengan dasar-dasar moral antara keterikatan seseorang dlm suatu negara bangsa. Artinya terdapat suatu ikatan moral dari anggota-anggotanya dlm batasbatas negara bangsa untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang tlh menjadi kesepakatan bersama. Dalam kaitan ini mult normatif merupakan suatu kritik sosial dalam membangun keinginan bersama dari suatu kelompok, membangun suatu wadah didalam pluralitas budaya yang ada dalam komunitas tersebut.

Referensi :


http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme, diakses tanggal 30 Novemver 2012

Akulturasi Psikologis

      Manusia dibesarkan, diasuh dan berkembang di suatu lingkungan dengan pola-pola budaya setempat, sehingga akhirnya manusia itu menjadi produk dari budaya tersebut. Pada dasarnya seseorang itu adalah gambaran dari budayanya, dimana budaya dirumuskan sebagai seperangkat aturan yang terorganisasikan mengenai cara-cara bagaimana individu dalam masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain dan bagaimana cara mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka. Pola-pola budaya ini pada gilirannya juga akan merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya tersebut.
Manusia selama hidupnya mengalami proses sosialisasi dan pendidikan, dalam proses itu individu senantiasa memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi, hingga akhirnya pola-pola budaya tersebut ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi kepribadian dan perilaku individu tersebut. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu disebut dengan enkulturasi.
Individu/kelompok yang memasuki budaya baru akan mengalami proses enkulturasi yang kedua, yang disebut dengan proses akulturasi. Akulturasi merupakan suatu proses menyesuaikan diri dengan budaya baru, dimana sesuatu nilai masuk ke dalam diri individu tanpa meninggalkan identitas budaya yang lama (Mulyana dan Rakhmat).
Pengertian Akulturasi
Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut, namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak. Akulturasi merupakan suatu proses dimana imigran menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi.
 Akulturasi adalah penyesuaian atau interaksi yang harmonis antara dua kebudayaan atau lebih menjadi pola atau bentuk kebudayaan yang kombinatif (Musianto, 1977).
Akulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri (Anonim dalam Scribd, 2011).
Akulturasi sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu (Gillin & Gillin dalam Nurul, 2011).
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya (Harsoyo dalam Febriyani, 2011). 
Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan (Mulyana dan Rakhmat, 2005).
Proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Komunikasi berperan penting dalam proses akulturasi. Variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi, antara lain: komunikasi persona; yang meliputi karakteristik personal, motivasi individu, pengetahuan individu tentang budaya baru, persepsi individu, pengalaman sebelumnya; komunikasi sosial yang meliputi komunikasi antarpersonal (verbal dan nonverbal); serta lingkungan komunikasi (Mulyana dan Rakhmat). 

Pengertian Psikologi
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno : psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tenyang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegitannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Psikologi sebagai studi ilmiah  mengenai proses perilaku dan proses mental. Psikologi merupakan salah satu bagian dari ilmu pilaku sosial.
Pengertian psikologi menurut beberapa para ahli :
Pengertian Psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
Menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut, namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak. Akulturasi merupakan suatu proses dimana imigran menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi.
Psikologi dikelompokan dalam beberapa bidang, yaitu: 
1. Psikologi Perkembangan, yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku yang terdapat pada tiap-tiap tahap perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupannya.
2. Psikologi Pendidikan, yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam situasi pendidikan.
3. Psikologi Sosial, ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya.
4. Psikologi Industri, ilmu yang mempelajari tingkah laku yang muncul dalam dunia industri dan organisasi. 
5. Psikologi Klinis, ilmu  yang mempelajari tingkah laku manusia yang sehat dan tidak sehat, normal dan tidak normal, dilihat dari aspek psikisnya.

Jadi akulturasi psikologis adalah tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya dalam proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, dan wujud interaksi yang harmonis antara dua kebudayaan atau lebih menjadi pola atau bentuk kebudayaan yang kombinatif kemudian terbentuklah perilaku dan hubungan yang terjalin. 
Referensi  :  
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAF/197210242001121-BAGJA_WALUYA/PIS/Konsep_Dasar_Psikologi.pdf